There always new things

>> Saturday, November 19, 2011


Sabtu ini memang seperti adalah waktu yang harus dipaksakan untuk sedikit keluar dari rutinitas monoton yang sudah jadi makanan sehari-hari. Jam 07.00 berebut untuk naik bus Trans Jakarta yang semakin tidak nyaman, 08.00-17.00 berkutat dengan semua urusan kantor dan malamnya harus kembali membuka buku matematika dasar. Jum'at malam sebenarnya rencana untuk nonton "Tintin the Movie" telah direncanakan, tapi sekali lagi kegagalan pemerintah kota Jakarta menyediakan transportasi publik yang dapat diandalkan, membuat nonton bersama sahabat pun batal.

Jam di komputer sudah menunjukan 11.30, sementara hasil penelusuran di dunia maya menunjukan pertujukan film di Metropole akan dimulai pada jam 12.30 sedang di TIM jam 13.00. Setelah berusaha mengerjar waktu tepat jam sesuai dengan jadwal pertunjukan pertama 13.05 akhirnya sampai juga di TIM XXI. TIM memang selalu memberikan ide-ide segar buat seorang arsitek, terutama di sebuah toko buku milik penyair Jose Rizal Manua. Toko buku milikinya ini tidak terlalu besar bahkan mungkin kecil bila dibandingkan dengan toko-toko buku besar yang ada di Jakarta. 'Kecil-kecil cabe rawit' mungkin julukan yang diberikan kepada toko buku ini. Untuk seorang arsitek yang masih terus belajar tentang kota dan arsitektur, toko buku ini menyediakan banyak hal baru. Beberapa buku langka tentang arsitektur dan kota tergeletak sebagai harta karun yang siap digali.

Read more...

Bangga Bangsa versus Brain, Beauty, Behavior

>> Thursday, August 25, 2011

"Ini Dadaku,...Mana Dadamu?"
Soekarno


Kapan terakhir kita berani berteriak lantang seperti itu? Mari bersama kita renungkan, apa yang telah kita perbuat bagi negara ini atau kita akan bertanya kembali apa yang telah diperbuat oleh negara ini untuk kita (John F. Kennedy - 20 Januari 1961). Degradasi di negara yang dengan susah payah kita cintai ini, ternyata sudah terjadi dimana-mana.

Degradasi ini bisa dilihat dari sistem pendidikan kita, yang dulu termasuk unggul (konon banyak orang-orang dari mancanegara yang belajar di Indonesia) saat ini sangat terpuruk. Berbanding terbalik dengan kenyataan sekarang, orang Indonesia lebih banyak yang belajar ke mancanegara. Alasannya tentu beragam, dari mulai yang masuk dalam logika hingga mengejar gengsi semata. Lantas pertanyaannya adalah seberapa Indonesia kah, orang yang belajar ke mancanegara?

Sebuah kenyataan yang miris bahwa sebenarnya rasa kebanggaan 'orang' Indonesia terhadap bangsanya sendiri sudah tidak ada. Bayangkan sebuah simbol yang selalu bangga dengan sebutan B3 (Brain, Beauty, Behavior) tidak punya satu unsur 'B' lainnya 'BANGGA' terhadap Indonesia. Lantas masih pantaskah menyandang predikat sebagai 'duta'nya Indonesia.

Mungkin di negara ini sudah tidak butuh rasa bangga, karena semua bisa digantikan dengan rasa gengsi. Bahkan gengsi ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, gengsi kalau tidak ikut-ikutan, gengsi kalau tidak memilih yang cantik dan dapat bicara bahasa asing, gengsi kalau tidak memilih yang lulusan pendidikan mancanegara. Tapi memang kesalah-kaprahan ini terjadi tidak hanya karena kita sebagai orang Indonesia, tapi merupakan kesalahan dari sebuah sistem kenegaraan yang sudah lama terjadi. Istilah yang digunakan adalah istilah bukanlah istilah yang mengharuskan kita untuk melihat ke 'dalam' tapi sebuah istilah yang mengharuskan kita 'jual' diri dengan sebuah baju promosi.

Jika demikian halnya apakah acara 'jualan' ini mesti teru menurus diadakan jika yang sebenarnya hanya menjadi batu loncatan semata dibandingkan menyebar luaskan pengetahuan akan ke-Indonesia-an?

Read more...

Manjanya Manusia Jakarta (Indonesia)?

>> Monday, August 15, 2011

Beberapa waktu yang lalu terjadi sebuah diskusi di groups jejaring sosial Facebook soal tarif transportasi Jakarta. Dalam diskusi tersebut muncul sebuah argumentasi dengan sebuah tulisan di blog yang berjudul "Keadilan Suatu Relatifitas". Sebuah pembahasan yang sebenarnya menarik sekaligus rancu. Kenapa? Karena jika semua hal dengan relatifitas maka semua akan 'mentok' ke dalam sebuah wacana "tergantung" pada apa, siapa, menurut apa bahkan untuk siapa wacana tersebut digulirkan.

Relatifitas terkadang digunakan sebagai sebuah senjata ampuh dalam 'memerangi' ketidaksamaan pendapat. Akan tetapi jika kata relatif tersebut diminggirkan ke sebuah pemikiran yang dipenuhi oleh logika - bahkan mungkin sebuah logika matematika, kata relatif mungkin tidak akan mudah dijadikan alat pengganjal maksud dan tujuan yang lebih baik, tapi kembali maksud dan tujuan yang lebih baik menurut siapa dan untuk siapa?

Jakarta sebagai sebuah kota sebenarnya dapat dianalogikan dengan seseorang yang berpenyakit kritis dan Jakarta memang punya kecenderungan untuk kembali mengulangi kesalahannya di masa lalu, sesuai dengan sebuah kalimat yang mungkin akrab didengar, 'sejarah selalu berulang'. Pada zaman kolonial pusat pemerintahan Belanda pernah dipindah ke Selatan (Weltevreden) dari tempat yang saat ini dikenal sebagai Kota Tua Jakarta. Hal ini disebabkan oleh menurunnya kualitas lingkungan yang terjadi di tempat tersebut kala itu, bahkan sempat dijuluki dengan ‘Het graf van de Hollander’.

Isu pemindahan ibu kota sebenarnya bukan merupakan hal baru bagi Jakarta, isu ini pernah diutarakan oleh Soekarno yang ingin memindahkan Jakarta ke Palangkaraya, bahkan Belanda sendiri mempunyai mimpi memindahkannya ke Bandung. Tapi apakah memindahkan ibu kota merupakan solusi yang paling tepat, selama perencanaan kota kita tidak memiliki sebuah cetak biru yang jelas dan baik.

Jakarta sebenarnya memiliki moda transportasi cukup lengkap dan beragam, bahkan sejarah mencatat banyak moda transportasi 'pernah' ada di Jakarta. Dari sistem transportasi canggih sampai dengan yang masih menggunakan tenaga manusia ada di Jakarta. Tarif transportasi di Jakarta tergolong sangat murah dibandingkan dengan tarif transportasi di negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia. Di Singapura misalnya jarak terjauh atau lebih dari 40 KM dengan menggunakan bus (BRT) dikenakan tarif S$ 2.60 tiket sekali jalan dan S$ 2.54 tiket terusan atau berlangganan. Bandingkan dengan tarif flat milik bus Trans Jakarta yang hanya Rp. 3.500, warga Jakarta sangat dimanjakan oleh pemerintah. Bahkan ketika warga Jakarta menuntut perbaikan kualitas terhadap pelayanan bus Trans Jakarta, isu yang mengemuka adalah berapa pun tarifnya harus murah dan pro rakyat. Kembali pertanyaannya murah dan pro rakyat itu menurut siapa, relatif bukan?

Secara detail dapat dibayangkan harga BBM baik jenis solar dan premium adalah Rp. 4.500 dibandingkan dengan harga tiket bus Trans Jakarta hanya Rp. 3.500. Apalagi jika melihat ke moda lain seperti Metromini dan Kopaja yang hanya Rp. 2.000 jauh dekat, maka rata-rata tarif transportasi di kota Jakarta sangat murah. Ketika banyak masyarakat yang protes terhadap kenaikan harga BBM tho nyatanya masyarakat masih mampu membelinya bahkan indikasi ini dibuktikan dengan makin banyaknya kendaraan yang beredar di jalan baik roda dua maupun roda empat. Layakkah manusia Jakarta (Indonesia) dimanja?

Read more...

Blog Archive

Followers

About This Blog

KUMKUM

About This Blog

  © Blogger templates Romantico by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP