<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-29600709291262287</id><updated>2011-11-25T09:27:06.578+07:00</updated><category term='Gallery'/><category term='Recomendation'/><category term='Journey'/><title type='text'>metamorfosa</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://wastu-citra.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wastu-citra.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>david a. sagita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06304000331306029355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SQveK4nRjCI/AAAAAAAAAAM/CoUP9-MvOt4/S220/me.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29600709291262287.post-4823409175772815619</id><published>2011-11-19T23:00:00.004+07:00</published><updated>2011-11-19T23:41:04.487+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Recomendation'/><title type='text'>There always new things</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-tkoJd5W46so/TsfbjXEyf3I/AAAAAAAAAE4/r2-gsfDgXUI/s1600/setumpuk%2Bharta%2Bkarun.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-tkoJd5W46so/TsfbjXEyf3I/AAAAAAAAAE4/r2-gsfDgXUI/s400/setumpuk%2Bharta%2Bkarun.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676747255859806066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sabtu ini memang seperti adalah waktu yang harus dipaksakan untuk sedikit keluar dari rutinitas monoton yang sudah jadi makanan sehari-hari. Jam 07.00 berebut untuk naik bus Trans Jakarta yang semakin tidak nyaman, 08.00-17.00 berkutat dengan semua urusan kantor dan malamnya harus kembali membuka buku matematika dasar. Jum'at malam sebenarnya rencana untuk nonton "Tintin the Movie" telah direncanakan, tapi sekali lagi kegagalan pemerintah kota Jakarta menyediakan transportasi publik yang dapat diandalkan, membuat nonton bersama sahabat pun batal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam di komputer sudah menunjukan 11.30, sementara hasil penelusuran di dunia maya menunjukan pertujukan film di Metropole akan dimulai pada jam 12.30 sedang di TIM jam 13.00. Setelah berusaha mengerjar waktu tepat jam sesuai dengan jadwal pertunjukan pertama 13.05 akhirnya sampai juga di TIM XXI. TIM memang selalu memberikan ide-ide segar buat seorang arsitek, terutama di sebuah toko buku milik penyair Jose Rizal Manua. Toko buku milikinya ini tidak terlalu besar bahkan mungkin kecil bila dibandingkan dengan toko-toko buku besar yang ada di Jakarta. 'Kecil-kecil cabe rawit' mungkin julukan yang diberikan kepada toko buku ini. Untuk seorang arsitek yang masih terus belajar tentang kota dan arsitektur, toko buku ini menyediakan banyak hal baru. Beberapa buku langka tentang arsitektur dan kota tergeletak sebagai harta karun yang siap digali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29600709291262287-4823409175772815619?l=wastu-citra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wastu-citra.blogspot.com/feeds/4823409175772815619/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29600709291262287&amp;postID=4823409175772815619' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/4823409175772815619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/4823409175772815619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wastu-citra.blogspot.com/2011/11/there-always-new-things.html' title='There always new things'/><author><name>david a. sagita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06304000331306029355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SQveK4nRjCI/AAAAAAAAAAM/CoUP9-MvOt4/S220/me.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-tkoJd5W46so/TsfbjXEyf3I/AAAAAAAAAE4/r2-gsfDgXUI/s72-c/setumpuk%2Bharta%2Bkarun.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29600709291262287.post-2784843284768823668</id><published>2011-08-25T16:10:00.004+07:00</published><updated>2011-08-29T11:17:27.176+07:00</updated><title type='text'>Bangga Bangsa versus Brain, Beauty, Behavior</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Ini Dadaku,...Mana Dadamu?"&lt;br /&gt;Soekarno&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan terakhir kita berani berteriak lantang seperti itu? Mari bersama kita renungkan, apa yang telah kita perbuat bagi negara ini atau kita akan bertanya kembali apa yang telah diperbuat oleh negara ini untuk kita (John F. Kennedy - 20 Januari 1961). Degradasi di negara yang dengan susah payah kita cintai ini, ternyata sudah terjadi dimana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Degradasi ini bisa dilihat dari sistem pendidikan kita, yang dulu termasuk unggul (konon banyak orang-orang dari mancanegara yang belajar di Indonesia) saat ini sangat terpuruk. Berbanding terbalik dengan kenyataan sekarang, orang Indonesia lebih banyak yang belajar ke mancanegara. Alasannya tentu beragam, dari mulai yang masuk dalam logika hingga mengejar gengsi semata. Lantas pertanyaannya adalah seberapa Indonesia kah, orang yang belajar ke mancanegara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kenyataan yang miris bahwa sebenarnya rasa kebanggaan 'orang' Indonesia terhadap bangsanya sendiri sudah tidak ada. Bayangkan sebuah simbol yang selalu bangga dengan sebutan B3 (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Brain, Beauty, Behavior&lt;/span&gt;) tidak punya satu unsur 'B' lainnya 'BANGGA' terhadap Indonesia. Lantas masih pantaskah menyandang predikat sebagai 'duta'nya Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin di negara ini sudah tidak butuh rasa bangga, karena semua bisa digantikan dengan rasa gengsi. Bahkan gengsi ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, gengsi kalau tidak ikut-ikutan, gengsi kalau tidak memilih yang cantik dan dapat bicara bahasa asing, gengsi kalau tidak memilih yang lulusan pendidikan mancanegara. Tapi memang kesalah-kaprahan ini terjadi tidak hanya karena kita sebagai orang Indonesia, tapi merupakan kesalahan dari sebuah sistem kenegaraan yang sudah lama terjadi. Istilah yang digunakan adalah istilah bukanlah istilah yang mengharuskan kita untuk melihat ke 'dalam' tapi sebuah istilah yang mengharuskan kita 'jual' diri dengan sebuah baju promosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian halnya apakah acara 'jualan' ini mesti teru menurus diadakan jika yang sebenarnya hanya menjadi batu loncatan semata dibandingkan menyebar luaskan pengetahuan akan ke-Indonesia-an?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29600709291262287-2784843284768823668?l=wastu-citra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wastu-citra.blogspot.com/feeds/2784843284768823668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29600709291262287&amp;postID=2784843284768823668' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/2784843284768823668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/2784843284768823668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wastu-citra.blogspot.com/2011/08/bangga-bangsa-versu-brain-beuty.html' title='Bangga Bangsa versus Brain, Beauty, Behavior'/><author><name>david a. sagita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06304000331306029355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SQveK4nRjCI/AAAAAAAAAAM/CoUP9-MvOt4/S220/me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29600709291262287.post-4675486322063088100</id><published>2011-08-15T15:09:00.005+07:00</published><updated>2011-08-15T22:51:50.600+07:00</updated><title type='text'>Manjanya Manusia Jakarta (Indonesia)?</title><content type='html'>Beberapa waktu yang lalu terjadi sebuah diskusi di groups jejaring sosial Facebook soal tarif transportasi Jakarta. Dalam diskusi tersebut muncul sebuah argumentasi dengan sebuah tulisan di blog yang berjudul "Keadilan Suatu Relatifitas". Sebuah pembahasan yang sebenarnya menarik sekaligus rancu. Kenapa? Karena jika semua hal dengan relatifitas maka semua akan 'mentok' ke dalam sebuah wacana "tergantung" pada apa, siapa, menurut apa bahkan untuk siapa wacana tersebut digulirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relatifitas terkadang digunakan sebagai sebuah senjata ampuh dalam 'memerangi' ketidaksamaan pendapat. Akan tetapi jika kata relatif tersebut diminggirkan ke sebuah pemikiran yang dipenuhi oleh logika - bahkan mungkin sebuah logika matematika, kata relatif mungkin tidak akan mudah dijadikan alat pengganjal maksud dan tujuan yang lebih baik, tapi kembali maksud dan tujuan yang lebih baik menurut siapa dan untuk siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta sebagai sebuah kota sebenarnya dapat dianalogikan dengan seseorang yang berpenyakit kritis dan Jakarta memang punya kecenderungan untuk kembali mengulangi kesalahannya di masa lalu, sesuai dengan sebuah kalimat yang mungkin akrab didengar, 'sejarah selalu berulang'. Pada zaman kolonial pusat pemerintahan Belanda pernah dipindah ke Selatan (Weltevreden) dari tempat yang saat ini dikenal sebagai Kota Tua Jakarta. Hal ini disebabkan oleh menurunnya kualitas lingkungan yang terjadi di tempat tersebut kala itu, bahkan sempat dijuluki dengan ‘Het graf van de Hollander’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu pemindahan ibu kota sebenarnya bukan merupakan hal baru bagi Jakarta, isu ini pernah diutarakan oleh Soekarno yang ingin memindahkan Jakarta ke Palangkaraya, bahkan Belanda sendiri mempunyai mimpi memindahkannya ke Bandung. Tapi apakah memindahkan ibu kota merupakan solusi yang paling tepat, selama perencanaan kota kita tidak memiliki sebuah cetak biru yang jelas dan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta sebenarnya memiliki moda transportasi cukup lengkap dan beragam, bahkan sejarah mencatat banyak moda transportasi 'pernah' ada di Jakarta. Dari sistem transportasi canggih sampai dengan yang masih menggunakan tenaga manusia ada di Jakarta. Tarif transportasi di Jakarta tergolong sangat murah dibandingkan dengan tarif transportasi di negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia. Di Singapura misalnya jarak terjauh atau lebih dari 40 KM dengan menggunakan bus (BRT) dikenakan tarif S$ 2.60 tiket sekali jalan dan S$ 2.54 tiket terusan atau berlangganan. Bandingkan dengan tarif &lt;span style="font-style:italic;"&gt;flat&lt;/span&gt; milik bus Trans Jakarta yang hanya Rp. 3.500, warga Jakarta sangat dimanjakan oleh pemerintah. Bahkan ketika warga Jakarta menuntut perbaikan kualitas terhadap pelayanan bus Trans Jakarta, isu yang mengemuka adalah berapa pun tarifnya harus murah dan pro rakyat. Kembali pertanyaannya murah dan pro rakyat itu menurut siapa, relatif bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara detail dapat dibayangkan harga BBM baik jenis solar dan premium adalah Rp. 4.500 dibandingkan dengan harga tiket bus Trans Jakarta hanya Rp. 3.500. Apalagi jika melihat ke moda lain seperti Metromini dan Kopaja yang hanya Rp. 2.000 jauh dekat, maka rata-rata tarif transportasi di kota Jakarta sangat murah. Ketika banyak masyarakat yang protes terhadap kenaikan harga BBM &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tho&lt;/span&gt; nyatanya masyarakat masih mampu membelinya bahkan indikasi ini dibuktikan dengan makin banyaknya kendaraan yang beredar di jalan baik roda dua maupun roda empat. Layakkah manusia Jakarta (Indonesia) dimanja?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29600709291262287-4675486322063088100?l=wastu-citra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wastu-citra.blogspot.com/feeds/4675486322063088100/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29600709291262287&amp;postID=4675486322063088100' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/4675486322063088100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/4675486322063088100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wastu-citra.blogspot.com/2011/08/manjanya-manusia-jakarta-indonesia.html' title='Manjanya Manusia Jakarta (Indonesia)?'/><author><name>david a. sagita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06304000331306029355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SQveK4nRjCI/AAAAAAAAAAM/CoUP9-MvOt4/S220/me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29600709291262287.post-4869075961923394912</id><published>2011-02-11T10:56:00.003+07:00</published><updated>2011-02-11T11:18:14.895+07:00</updated><title type='text'>3 Jenis Tempe Dalam 1 Bungkus Nasi Uduk</title><content type='html'>Selamat Pagi...!!! itu ucapan paling enak yang terdengar di pagi hari. Sambil bermalas-malasan turun dari peraduan, pagi itu bunda ternyata telah menyediakan sebungkus nasi uduk untuk sarapan. Tidak ada yang spesial dengan nasi uduk yang memang biasa kami makan setiap hari. Sayapun menuju meja makan sambil membuka sebungkus nasi uduk yang sudah disiapkan...kembali tidak ada yang istimewa dalam sebungkus nasi uduk tersebut. Suapan demi suapan pun dimulai hingga saya meraih sebuah toples tempat keripik yang saya beli beberapa malam sebelumnya. "Kriuk...kriuk...", dua kali gigitan di kripik di tangan saya, kembali tidak ada yang aneh dengan nasi uduk yang saya makan. Saya letakan keripik yang saya makan tadi di dalam bungkusan nasi uduk tadi. Saya terdiam sebentar memperhatikan ke dalam bungkusan nasi uduk yang saya makan hampir setengahnya. Saya terdiam sambil mengamati bahwa ternyata semua lauk yang saya makan bersama dengan nasi uduk tersebut semuanya adalah tempe, tempe goreng dengan baluran tepung, tempe orek bumbu kecap, dan keripik tempe yang saya beli malam sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil sedikit tertegun saya memperhatikan bahwa ternyata lauk saya semuanya adalah tempe yang diolah dengan cara yang berbeda-beda, hmm...&lt;span style="font-style:italic;"&gt;little bit amazing with that.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29600709291262287-4869075961923394912?l=wastu-citra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wastu-citra.blogspot.com/feeds/4869075961923394912/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29600709291262287&amp;postID=4869075961923394912' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/4869075961923394912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/4869075961923394912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wastu-citra.blogspot.com/2011/02/3-jenis-tempe-dalam-1-bungkus-nasi-uduk.html' title='3 Jenis Tempe Dalam 1 Bungkus Nasi Uduk'/><author><name>david a. sagita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06304000331306029355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SQveK4nRjCI/AAAAAAAAAAM/CoUP9-MvOt4/S220/me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29600709291262287.post-5597620143309247476</id><published>2010-02-11T13:58:00.002+07:00</published><updated>2010-02-11T14:13:35.368+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Journey'/><title type='text'>Gerakan 'Makar' Tolol Seorang Mahasiswa</title><content type='html'>Ada satu kalimat menarik dari tulisan berjudul ‘Kenang-kenangan Bekas Mahasiswa: Dosen-dosen juga Perlu Dikontrol’ oleh Soe Hok-Gie pada tahun 1969, ‘Kalau kita berani melawan Soekarno dan jenderal-jenderal korup, masakan kita takut melawan dosen-dosen kita yang ngawur’. Menjadi sebuah dilema ketika mahasiswa ‘aktivis’ dihadapi dengan kenyataan demikian, di luar kampus seperti singa garang tapi ketika berada di dalam kampus seperti kerupuk yang terkena air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa memang kader-kader intelektual bangsa Indonesia yang diharapkan berani menyuarakan kebenaran dan kritis terhadap keadaan terkini, tapi apa jadinya ketika ada mahasiswa yang melakukan retorika-retorika demi menutupi ketidak-mampuannya untuk menyelsaikan tugas kuliah, mungkin ini merupakan hal menarik dan unik. Paska 1998 memang gerakan mahasiswa atau gerakan-gerakan masyarakat tumbuh seperti jamur di musim hujan dan hal ini menyebar ke semua lapisan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ada ketidak-puasan terhadap sesuatu maka banyak gerakan-gerakan berusaha menyampaikan aspirasi dengan jalan demonstrasi. Mungkin ketika Soe Hok-Gie masih ada, gerakan yang berani menyerang institusi pengajaran relatif masih sedikit dan dilakukan dengan cara-cara cerdas serta pertimbangan matang. Tapi saat ini mungkin karena demontrasi sudah menjadi sesuatu yang biasa dilihat dan tren maka siapapun akan melakukan demo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi sebuah pengalaman menarik ketika sekelompok mahasiswa berusaha menyampaikan ketidak-puasan atau mungkin ketidak-sukaannya terhadap sebuah metode pengajaran ekstrim yang diterapkan di kelas fotografi arsitektur. Fotografi bukanlah hanya sekedar merekam gambar dan mengabadikan momen tetapi hasil fotografi yang baik harus mampu bercerita, memiliki kedalaman makna dan juga memberikan kesan. Cerita ini terjadi lebih kurang awal tahun 2009 ketika kamera analog telah bermetamorfosa menjadi kamera digital dimana setiap orang diberikan banyak kemudahan. Hal ini berakibat setiap orang tidak lagi mengenal proses pembelajaran yang utuh namun beralih menjadi belajar instan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa saat ini mungkin bisa dibilang adalah generasi instan tanpa mental militan (bukan militer) dan melahirkan mahasiswa-mahasiswa manja. Bahkan diera kebebasan bicara dan penegakan HAM (Hak Asasi Manusia) setiap orang akan berani berteriak “…pelanggaran HAM…” tanpa mengerti apa itu HAM lebih dalam. Mungkin ini mendasari gerakan sekelompok mahasiswa yang dicoba diubah pola pikirnya, ketidak-mampuan menyelsaikan tugas dengan baik, tidak adanya jejaring pertemanan (kecuali lewat jejaring sosial seperti facebook) membuat satu-satunya jalan ‘memberontak’ adalah melalui pembuatan petisi dan melakukan demo. Sebenarnya tugas yang diberikan sangat mudah yakni mengerjakan tugas dengan menggunakan kamera analog. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga tengah semester ternyata semua mahasiswa belum mengerjakan tugas dan ketika ditanya jawabnya pun cukup lucu, dari mulai ‘…tidak ada yang punya…’, ‘…kalau sewa sangat mahal…’, masih banyak lagi. Saran agar para mahasiswa menghubungi para senior pun telah diberikan dengan harapan para senior mampu mengenalkan mereka ke jaringan yang lebih luas. Ternyata hasilnya kembali nihil, bahkan ada sebuah laporan bahwa seorang mahasiswa telah memimpin untuk membuat petisi keberatan terhadap tugas yang diberikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya laporan mengenai ‘makar’ ini diterima dari mahasiswa yang juga ikut mata kuliah fotografi arsitektur, entah ini adalah judas atau malah malaikat tapi yang terlihat adalah ‘makar’ ini sangat mudah dipatahkan. Dari sang pelapor banyak hal tergali dan mulai dilakukan analisa-analisa tentang kekuatan dan kelemahan serta langkah yang akan dilakukan. Ternyata setelah beberapa lama kesimpulan pun didapat bahwa sebenarnya ‘makar’ ini didasari oleh ketidak-mampuan mahasiswa untuk mendapatkan kamera, bukan pada kesalahan transfer keilmuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Makar’ ini tinggal menunggu momen yang tepat untuk dipatahkan bahkan untuk mematahkannya hanya diperlukan serangan di titik terkuat sehingga dengan sendirinya ‘makar’ akan gagal. Retorika harus dilawan dengan retorika, serta sedikit pembuktian bahwa provokator ‘makar’ salah besar. Ternyata benar ‘makar’ pun berhasil digagalkan sekaligus memberi pelajaran berharga kepada semua mahasiswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa yang memiliki keberanian untuk menyerang dosen atau pun lembaga pengajaran memang patut mendapatkan apresiasi yang tinggi tapi sekaligus perlu diberikan pelajaran berharga bahwa ketololan yang dilakukan oleh sang provokator yang hanya bisa meniru dan bergaya aktivis tanpa di dasari oleh argumentasi-argumentasi logis. Ini merupakan gerakan ‘makar tolol’ seorang mahasiswa bukan gerakan dengan dasar kecerdasan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29600709291262287-5597620143309247476?l=wastu-citra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wastu-citra.blogspot.com/feeds/5597620143309247476/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29600709291262287&amp;postID=5597620143309247476' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/5597620143309247476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/5597620143309247476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wastu-citra.blogspot.com/2010/02/gerakan-makar-tolol-seorang-mahasiswa.html' title='Gerakan &apos;Makar&apos; Tolol Seorang Mahasiswa'/><author><name>david a. sagita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06304000331306029355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SQveK4nRjCI/AAAAAAAAAAM/CoUP9-MvOt4/S220/me.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29600709291262287.post-2867593252076222729</id><published>2010-02-05T10:01:00.002+07:00</published><updated>2010-02-26T01:44:43.437+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Recomendation'/><title type='text'>Fantasy Jubingan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/S26gbQbG8cI/AAAAAAAAAD8/P2pjjgS9NtA/s1600-h/DSC00122.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/S26gbQbG8cI/AAAAAAAAAD8/P2pjjgS9NtA/s400/DSC00122.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435458190408348098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/S26gb7hFRII/AAAAAAAAAEE/XSRhBG9K0lg/s1600-h/DSC00123.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/S26gb7hFRII/AAAAAAAAAEE/XSRhBG9K0lg/s400/DSC00123.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435458201976128642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/S26gcL4IYrI/AAAAAAAAAEM/iKbPy9L6enU/s1600-h/DSC00124.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/S26gcL4IYrI/AAAAAAAAAEM/iKbPy9L6enU/s400/DSC00124.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435458206367769266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jakarta 0402201019302200 Bentara Budaya. Sekitar jam 16.00 status pada Facebook saya yang di-update via Twitter adalah "...mau jubingan dulu ah...", ternyata mendapatkan komentar dari dua orang teman di tempat yang berbeda, di Facebook seorang teman dari Palembang menyahut "...jubingan ki opo mas?..." dan di Twitter teman dari Jakarta ikut mengkomentari "...jubingan? bhs yg tak gw knal...". Hmm...ternyata menarik ada 2 orang yang kebingungan dengan istilah saya. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya telepon genggam saya pun berbunyi ternyata seseorang yang saya ajak telah tiba, agak sedikit lupa tepatnya tapi rasanya ada sebuah pertanyaan muncul dari seseorang yang kini telah duduk di samping saya "...kenapa semuanya pakai fantasy?...", dengan spontan pun saya memberikan jawaban "...karena mungkin kita ingin diajak untuk ber-fantasy...". acara pun kembali berjalan sambil sesaat saya kembali bertanya "...sebelum ini belum pernah tau ya?...".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jubingan sebenarnya dimulai ketika saya berlari ke kamar saya untuk mendengarkan Becak Fantasy dan istilah itu muncul dan dimengerti oleh seorang teman yang memperkenalkan saya kepada musik-musik Jubing Kristianto, sampai sekarang saya selalu menggunakan istilah itu ketika ingin mendengarkan musik-musik yang dimainkan oleh Jubing. Akhirnya kesampaian juga untuk melihat Jubing Kristianto secara langsung, sebuah konser sederhana dengan judul 'Jalan Hidup Enam Senar' yang digelar di Bentara Budaya berlangsung dengan sukses. Bukan hanya sukses tetapi sebuah konser solo gitar akustik mampu menyedot perhatian lebih kurang 600 orang yang hadir dan berbaur dengan sang gitaris, tidak ada batasan. Konser yang diadakan secara gratis ini dipandu oleh sahabat dari Jubing sendiri dengan gaya yang cukup akrab dengan saya, gaya guyonan khas Srimulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketertarikan saya pada musik-musik Jubing sebenarnya berawal pada sesuatu keterkejutan ketika mendengarkan kembali lagu Becak yang dimainkan Jubing secara orkestra. Sebuah lagu anak-anak yang kembali terdengar setelah sekian lama tidak mendengar lagu anak-anak bermutu di Indonesia, mungkin terakhir jika mau secara detail adalah saat Sherina mengeluarkan album Petualang Sherina itu adalah kali terakhir Indonesia punya lagu anak-anak bermutu. Entah apa yang menyebabkan lagu anak-anak bermutu sepertinya mati suri tapi Jubing telah mampu menghadirkan kembali lagu anak-anak dalam ketiga albumnya. Becak Fantasy, Hujan Fantasy dan Delman Fantasy ketiganya menghadirkan kembali lagu anak-anak dengan sentuhan liyan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;the other&lt;/span&gt;) tanpa syair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya lagu anak-anak yang mendapatkan sentuhan dawai gitar Jubing beberapa lagu daerah pun kembali hidup, Ayam Den Lapeh di album Becak Fantasy, Bengong Jeumpa dan Gundul Pacul di album Hujan Fantasy, dan di album ketiga Delman Fantasy hadir Bubuy Bulan. Walaupun jika dibilang album-album Jubing juga menghadirkan lagu-lagu lain dengan genre non lagu anak-anak ataupun daerah, namun ruh dari semua pembuatan album Jubing adalah lagu anak-anak sederhana dan indah. Di Jakarta sendiri saat ini ada sebuah fenomena menarik untuk diamati, hadirnya gerobak 'odong-odong' yang menjelajah sudut-sudut 'kampung' kota Jakarta. Menariknya adalah lagu-lagu yang selalu menyertai odong-odong ini adalah lagu anak-anak yang sederhana tadi bukan lagu-lagu ber-gendre dewasa. Entah apa alasan para pemilik odon-odong menghadirkan lagu anak-anak yang jelas mungkin latar belakangnya sangat sederhana dan tidak rumit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena lain di Indonesia adalah ketika industri media elektronik terutama televisi berusaha mencetak artis-artis cilik lewat penggalian bakat menyanyi. Mari sama-sama kita perhatikan berapa persen perbandingan lagu-lagu yang dibawakan oleh para calon artis cilik ini sesuai dengan umurnya. Dan hal ini terus terjadi tanpa ada niatan untuk mengubahnya. Kenapa tidak ada sebuah kompetisi untuk mencipta lagu anak-anak yang baik, apakah ini sebuah indikasi dimana anak-anak diekploitasi dan menempatkan mereka sebagai komoditas baru? Jadi dimana letak perbedaan mereka dengan para pekerja anak yang ramai-ramai banyak diprotes oleh para aktivis anak? Terlepas dari itu semua Jubing Kristianto memberikan harapan baru bagi kita untuk menggali lagi lagu anak-anak yang ada di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29600709291262287-2867593252076222729?l=wastu-citra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wastu-citra.blogspot.com/feeds/2867593252076222729/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29600709291262287&amp;postID=2867593252076222729' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/2867593252076222729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/2867593252076222729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wastu-citra.blogspot.com/2010/02/fantasy-jubingan.html' title='Fantasy Jubingan'/><author><name>david a. sagita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06304000331306029355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SQveK4nRjCI/AAAAAAAAAAM/CoUP9-MvOt4/S220/me.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/S26gbQbG8cI/AAAAAAAAAD8/P2pjjgS9NtA/s72-c/DSC00122.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29600709291262287.post-4931491897614174214</id><published>2010-02-05T09:51:00.004+07:00</published><updated>2010-02-07T18:40:22.538+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Journey'/><title type='text'>runtuhnya majapahit untuk kali kedua</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/S26lDhMbnBI/AAAAAAAAAEc/uGgJAvP_FY0/s1600-h/DSC00072.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/S26lDhMbnBI/AAAAAAAAAEc/uGgJAvP_FY0/s400/DSC00072.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435463280151469074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jika arsitek Belanda bernama belakang Pont berhasil mencoba melakukan reka ulang terhadap kota raja kerajaan Majapahit dengan melakukan telusur jejak berdasarkan terjemahan kitab Nagarakertagama, maka agaknya sangat sulit bagi kita jika ingin melakukan telusur jejak yang sama berdasarkan peta yang dihasilkan oleh Pont. Menjadi sebuah dilema dimana sebuah tradisi lokalitas harus berhadapan dengan isyu-isyu krusial antara lain perusakan situs cagar budaya dan perusakan lingkungan. Beberapa waktu lalu isyu perusakan cagar budaya di Trowulan justru dimulai dari rencana pembuatan tempat Pusat Informasi Majapahit (PIM) dimana sebuah desain dari seorang arsitek ternama dengan gelar S3 justru malah merusak situs Majapahit yang ada. Ketidak-setujuan ini pun memicu banyak kalangan untuk bereakasi, pro dan kontra pun terjadi, maklum ketika itu sang pemimpin bangsa ini hampir habis masa jabatan pertamanya sehingga mungkin para kalangan bawahnya ingin menjadikan pembangunan PIM ini sebagai sebuah momentum 'cari muka' agar tidak tergeser dari kabinet yang sekarang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Jika yang terjadi demikian, lantas siapa yang harus bertanggung jawab? Adakalanya negeri ini butuh sosok satria pemberani untuk bilang, "Sayalah yang bertanggung-jawab", dibandingkan diam membisu dan lempar tanggung-jawab. Atau jangan-jangan ini sebuah rancangan sistematis yang telah dirancang sedemikian rupa agar jika ada yang sadar dan mau bergerak maka dia akan masuk dalam sebuah labirin bernama birokrasi dan tatanan hirarki yang tidak dapat dicari ujung-pangkalnya sehingga menyesatkan dan mampu menyelamatkan yang salah. Atau alasan batasan administrasilah yang justru membingungkan para pengambil keputusan atau jangan-jangan hal ini mampu menjadi komoditas bagi segelintir orang untuk memperoleh keuntungan? Lalu sebenarnya untuk siapakah kita menjaga sebuah situs sejarah yang dianggap cagar budaya? Untuk sekelompok orang yang mampu melihat majapahit sebagai ladang 'komoditas' baru atau untuk masyarakat lokal atau jika kita menggunakan 'rasa' nasionalisme di dalamnya maka kita akan berkata lantang "Untuk Indonesia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas yang terjadi di lapangan terkadang jauh berbeda dengan apa yang kita baca, kita lihat dan kita dengar dari media, ketika media menjadi penyampai pesan sang penguasa. Yang terjadi di lapangan justru sangat menyedihkan, setiap detik situs sejarah kerajaan Majapahit rusak, bukti bahwa pada zaman itu ada sebuah kerajaan di dalam negara yang kini bernama Indonesia dan telah mengusai sebagian dari Asia Tenggara hilang. Anehnya masyarakat lokal agaknya terlalu acuh atas apa yang terjadi di Trowulan, lalu atas jika ada kelompok lokal yang 'berteriak' untuk siapakah teriakan itu, apakah ini hanya satu kejelian mereka melihat peluang untuk memanfaatkan komoditas yang ada? Industri Banon Trowulan memang sangat terkenal bukan hanya di Jawa Timur bahkan di luar Jawa Timur hanya saja apakah kita tau bahwa bahan baku tanah liat yang didapat mengandung catatan-catatan penting sejarah yang juga tidak kalah pentingnya dengan catatan yang ada di dalam sebuah prasasti atau tulisan dalam lontar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industri yang dikerjakan masyarakat secara tradisional memang tidak secepat pabrik semen dalam merusak lingkungan akan tetapi secara perlahan hal ini mengancam keutuhan situs sejarah tadi. Jika dalam sebuah kasus pembunuhan seorang ahli forensik kesulitan mereka ulang jika bukti di lapangan telah 'rusak' sama halnya dengan situs sejarah Majapahit, maka para ahli sejarah akan mengalami kesulitan jika akan melakukan sebuah perekaan ulang terhadap situs sejarah tersebut. Peradaban Majapahit pernah runtuh dan terkubur di masa lalu apakah kita akan membiarkannya untuk runtuh kedua kalinya di masa sekarang?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29600709291262287-4931491897614174214?l=wastu-citra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wastu-citra.blogspot.com/feeds/4931491897614174214/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29600709291262287&amp;postID=4931491897614174214' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/4931491897614174214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/4931491897614174214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wastu-citra.blogspot.com/2010/02/runtuhnya-majapahit-untuk-kali-kedua.html' title='runtuhnya majapahit untuk kali kedua'/><author><name>david a. sagita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06304000331306029355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SQveK4nRjCI/AAAAAAAAAAM/CoUP9-MvOt4/S220/me.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/S26lDhMbnBI/AAAAAAAAAEc/uGgJAvP_FY0/s72-c/DSC00072.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29600709291262287.post-3745833708743693229</id><published>2009-10-15T09:49:00.004+07:00</published><updated>2009-10-15T21:32:23.540+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Recomendation'/><title type='text'>Perahu Kertas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hmm...sebenarnya tulisan ini sih soal resensi sebuah novel yang baru selesai saya baca hari ini. Setelah sekian lama saya sempat berhenti menulis blog ini, mungkin saya juga sedang ber-metamorfosis...jika sebelumnya saya nge-blog lewat si mac kesayangan saya, sekarang sedang mencoba via HP (walaupun bukan BB dan mencari 'tuts' enter pun sulit tapi tetap OK aja). Saya beli novel ini sebenarnya ga' niat-niat amat sih, sekedar iseng karena pada waktu saya lihat judulnya saya jadi inget lagunya Dewi Lestari - Malaikat Juga Tau, karena menurut info file di lagu itu: 'ost. perahu kertas'. Jika memang lagu itu adalah ost.nya sih...kalau bukan ya....lagu itu tetap keren. Pikir saya waktu itu, keren banget novel aja ada soundtrack-nya. Perahu Kertas...jaman kecil dulu sih sering saya buat untuk lomba, terutama waktu hujan atau pipa PDAM bocor, sebab got depan rumah penuh dengan air. Perahu Kertas versi DEE ternyata juga demikian menghanyutkan, kisah cinta dan persahabatan Kugy dan Keenan, juga ikut berlomba di dalamnya. Berlatar tempat yang banyak dikenal Perahu Kertas membawa kita hanyut dalam petualangan yang seru dan tak terduga.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29600709291262287-3745833708743693229?l=wastu-citra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wastu-citra.blogspot.com/feeds/3745833708743693229/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29600709291262287&amp;postID=3745833708743693229' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/3745833708743693229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/3745833708743693229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wastu-citra.blogspot.com/2009/10/perahu-kertas.html' title='Perahu Kertas'/><author><name>david a. sagita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06304000331306029355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SQveK4nRjCI/AAAAAAAAAAM/CoUP9-MvOt4/S220/me.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29600709291262287.post-5773423531328768817</id><published>2009-02-09T03:09:00.006+07:00</published><updated>2009-02-14T13:16:07.177+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Recomendation'/><title type='text'>Sex After Dugem</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SEX AFTER DUGEM: Cacatan Seorang Copywriter&lt;br /&gt;Budiman Hakim&lt;br /&gt;Galangpress – ISBN 978-602-8174-10-7&lt;br /&gt;342 hlm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca judul buku ini mungkin imajinasi kita akan segera membentuk citra bahwa kita akan membaca buku yang sarat akan aksi esek-esek, tapi jika kita sudah membaca buku ini maka kita mungkin tidak akan menemukan citra yang sudah terlanjur terbentuk tadi, jika ada ungkapan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;don’t judge a book by it’s cover&lt;/span&gt; maka untuk buku ini kita bisa mengatakan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; don’t judge a book by it’s title&lt;/span&gt;. Judul yang diberikan memang akan menyiratkan bahwa ini adalah buku mengenai pengalaman kehidupan malam dari sang penulis selama hidupnya, akan tetapi tidak begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sex After Dugem adalah sebuah judul cukup pintar yang digunakan oleh sang penulis untuk memprovokasi para calon pembaca untuk membeli dan kemudian membaca isi bukunya. Buku ini memang sebuah catatan pengalaman kehidupan tapi bukan kehidupan malam, sebuah kehidupan yang memiliki banyak warna. Kehidupan yang ‘tidak lurus’ dan cenderung &lt;em&gt;nyelneh&lt;/em&gt;, sebuah cerita tentang banyak hal dari mulai kelahiran hingga kematian, dari sebuah peristiwa yang membahagiakan hingga sebuah peristiwa yang mampu memancing tetes air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disajikan dengan tata bahasa yang sedikit ‘keluar’ dari tatanan EYD Bahasa Indonesia, buku ini mampu menghadirkan sebuah esensi moral yang dalam yakni kejujuran. 34 cerita dalam buku ini kesemuannya menarik untuk dibaca, mulai dari kepolosan seorang anak yang berdialog dengan Tuhannya secara santai dan tanpa takut, hingga ke sebuah persabatan aneh yang terjalin antara sesama pendaki gunung. Selain mampu meberikan inspirasi, membaca buku ini mampu melepaskan kita dari penat yang mungkin sering datang, cerita-cerita mampu memancing gelak tawa yang sangat dasyat hingga sukar dikendalikan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29600709291262287-5773423531328768817?l=wastu-citra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wastu-citra.blogspot.com/feeds/5773423531328768817/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29600709291262287&amp;postID=5773423531328768817' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/5773423531328768817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/5773423531328768817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wastu-citra.blogspot.com/2009/02/sex-after-dugem.html' title='Sex After Dugem'/><author><name>david a. sagita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06304000331306029355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SQveK4nRjCI/AAAAAAAAAAM/CoUP9-MvOt4/S220/me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29600709291262287.post-4000284806546580450</id><published>2009-01-25T22:02:00.014+07:00</published><updated>2009-01-25T22:32:55.817+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Journey'/><title type='text'>the Award</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SXyALkNDQ6I/AAAAAAAAADA/bXiFbsojt-g/s1600-h/001b.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 301px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SXyALkNDQ6I/AAAAAAAAADA/bXiFbsojt-g/s400/001b.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295248198066193314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;It’s was one of the biggest surprise for me in 2008 when I nominated to be one of person that written for this book. The book title in Indonesia "Catatan Emas 30 Anak Muda Yang Mengukir Sejarah" or "Golden Notes of 30 Young People That Sculpt The History", published by Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga - Republik Indonesia (&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;State Ministry of Youth and Sports - the Republic of Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:150;"  &gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;). The book is published for celebrating the 80 year of the "Sumpah Pemuda" (Indonesian Youth Oath).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29600709291262287-4000284806546580450?l=wastu-citra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wastu-citra.blogspot.com/feeds/4000284806546580450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29600709291262287&amp;postID=4000284806546580450' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/4000284806546580450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/4000284806546580450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wastu-citra.blogspot.com/2009/01/award.html' title='the Award'/><author><name>david a. sagita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06304000331306029355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SQveK4nRjCI/AAAAAAAAAAM/CoUP9-MvOt4/S220/me.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SXyALkNDQ6I/AAAAAAAAADA/bXiFbsojt-g/s72-c/001b.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29600709291262287.post-5751851304060161796</id><published>2008-12-15T00:36:00.000+07:00</published><updated>2008-12-15T00:49:50.656+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gallery'/><title type='text'>My First Hunting</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SUVEZK-dQfI/AAAAAAAAACc/V2vSs0BrsYQ/s1600-h/breakfast.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 298px; height: 211px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SUVEZK-dQfI/AAAAAAAAACc/V2vSs0BrsYQ/s400/breakfast.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279701337395511794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;This photo was taken around 1996 in elementary school near my house. This my first best photo that I took, that time I'm using my friend almost broken FUJIKA SLR camera, without light meter, 50mm standard lenses and very cheap black &amp;amp; white 35mm negative film. The title is Hmm...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29600709291262287-5751851304060161796?l=wastu-citra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wastu-citra.blogspot.com/feeds/5751851304060161796/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29600709291262287&amp;postID=5751851304060161796' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/5751851304060161796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/5751851304060161796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wastu-citra.blogspot.com/2008/12/my-first-hunting.html' title='My First Hunting'/><author><name>david a. sagita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06304000331306029355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SQveK4nRjCI/AAAAAAAAAAM/CoUP9-MvOt4/S220/me.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SUVEZK-dQfI/AAAAAAAAACc/V2vSs0BrsYQ/s72-c/breakfast.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29600709291262287.post-805355148550825401</id><published>2008-12-10T09:17:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T23:05:32.053+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gallery'/><title type='text'>My Hobbies</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/ST89ctACYkI/AAAAAAAAACA/6nvf0sMjAJc/s1600-h/somewhere+in+kali+code.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/ST89ctACYkI/AAAAAAAAACA/6nvf0sMjAJc/s400/somewhere+in+kali+code.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278004851626893890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;somewhere in kali code - tribute to romo mangun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/ST89cv73LiI/AAAAAAAAAB4/rgJvzeI74vE/s1600-h/pertapaan+gedono.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/ST89cv73LiI/AAAAAAAAAB4/rgJvzeI74vE/s400/pertapaan+gedono.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278004852414688802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;pertapaan gedono - tribute to romo mangun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/ST89cThs_-I/AAAAAAAAABw/eFojLbYGXxg/s1600-h/gereja+blenduk.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 305px; height: 461px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/ST89cThs_-I/AAAAAAAAABw/eFojLbYGXxg/s400/gereja+blenduk.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278004844788776930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;gereja mblenduk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/ST89cePY-vI/AAAAAAAAABo/Zp-bV3El97w/s1600-h/always+coca-cola.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 335px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/ST89cePY-vI/AAAAAAAAABo/Zp-bV3El97w/s400/always+coca-cola.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278004847664757490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;always coca-cola&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/ST8nAMJcxfI/AAAAAAAAAAw/YsMeCOXRxLI/s1600-h/somewhere+in+kali+code.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29600709291262287-805355148550825401?l=wastu-citra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wastu-citra.blogspot.com/feeds/805355148550825401/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29600709291262287&amp;postID=805355148550825401' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/805355148550825401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/805355148550825401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wastu-citra.blogspot.com/2008/12/my-hobbies.html' title='My Hobbies'/><author><name>david a. sagita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06304000331306029355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SQveK4nRjCI/AAAAAAAAAAM/CoUP9-MvOt4/S220/me.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/ST89ctACYkI/AAAAAAAAACA/6nvf0sMjAJc/s72-c/somewhere+in+kali+code.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29600709291262287.post-1544377405050336432</id><published>2008-12-08T19:53:00.003+07:00</published><updated>2009-01-25T15:24:04.076+07:00</updated><title type='text'>Pahlawan Liyan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap orang pasti pernah punya tokoh idola, bahkan setiap idola pasti pernah mengidolakan orang lain. Saya sendiri mengidolakan Marco H. Kusumawijaya seorang lulusan arsitektur dan menjadi pakar perkotaan yang mampu memahami seni dan budaya, tapi yang menulis Marco sudah banyak dan Marco sudah terkenal dan dikenal banyak orang baik lokal, nasional sampai internasional. Waktu kecil mungkin banyak yang mengenal Superman, Batman, Spiderman sebagai pahlawan super berkostum, maka jika kita melihat film serial HEROES kita akan disodorkan dengan sebuah cerita tentang pahlawan super tanpa kostum, bahkan tidak ada orang yang tau bahwa orang yang duduk di sebelahnya memiliki kekuatan super atau kelebihan. Dalam film itu mereka adalah orang biasa yang memiliki aktivitas yang biasa pula. Begitu pula dengan nama Abraham L. Siahaan, M. Bambang Susetyarto atau A. Kriswandhono mereka adalah orang-orang biasa dan tidak terkenal, kecuali Nirwono Joga yang rajin menulis buku dan artikel di surat kabar ke-3 orang tersebut adalah orang biasa atau mungkin pahlawan tanpa kostum. Jika memang ada yang akan beragumen bahwa mereka bukan pahlawan mungkin juga benar tapi bisa saja salah, atau bisa saja terlihat sangat subjektif tapi bisa saja dalam perjalanannya menjadi sesuatu yang objektif dan biarlah menjadi sebuah dinamika yang mampu memberi warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abraham L. Siahaan seorang guru PNS di SMP Negeri 74 Jakarta, tubuhnya tinggi kulit warna coklat kehitaman, seorang Batak yang berlogat Jawa dan menikahi seorang wanita Jawa juga. Sekilas jika kita bertemu dengannya tidak ada yang istimewa kecuali tinggi badannya yang di atas rata-rata, tapi jika kita sudah berhasil ‘memancing’ sebuah diskusi maka akan terjadi sebuah diskusi yang menarik karena jawabannya yang tidak biasa, selalu ada yang lain. Mata pelajaran yang diampu-nya juga bukan mata pelajaran yang sangat meng-heboh-kan…hanya pelajaran sejarah. Wawasannya tentang hidup dan kehidupan cukup mendalam. Jika dalam pewayangan ada istilah dalang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mbeling&lt;/span&gt; maka pa’ Bram adalah guru &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mbeling&lt;/span&gt;. Guru yang tidak pernah marah jika menerima kritik, guru yang juga seorang motivator, guru yang berpengetahuan sangat luas, guru ingin muridnya selalu berada satu langkah di depan, guru yang menjadi sahabat dan teman, guru yang tetap selalu ingin jadi guru. Lantas apa yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mbeling&lt;/span&gt;? Kalo ditanya begitu terkadang memang agak susah menjawabnya, tapi pa’ Bram merupakan seorang guru yang selalu berusaha tidak terpenjara dalam ruang kelas, tidak hanya nekat mencuri waktu sekolah untuk wisata studi tapi juga nekat mengajak muridnya untuk selalu belajar dari alam dengan jalan-jalan ke pegunungan di daerah Ciampea, tanpa harus mengambil keuntungan pribadi. Baginya yang penting adalah muridnya bisa maju. Hanya memang pa’ Bram tinggal dan mengajar di Jakarta bukan Belitung dan sekolahnya adalah sekolah negeri dengan bangunan permanen bukan semi permanen yang beralih fungsi kalau malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan M. Bambang Susetyarto, beliau mengajar di Arsitektur - Univesitas Trisakti, seorang guru juga tetapi dengan sebutan yang lebih ‘akademis’ dosen. Seorang guru &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nyentrik&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mbeling&lt;/span&gt; juga. Perwajahannya memang tidak tampan tapi beliau memiliki seorang istri yang cantik. Jika beberapa mantan muridnya berkumpul pertanyaan yang sama dan selalu terucap di depan istrinya adalah, “Apa sih yang membuat ibu mau dengan bapak?”. Menjadi seorang yang nyentrik memang belum tentu membuatnya diterima disemua tempat, apalagi jika tempat tersebut tidak bisa melihat perbedaan sebagai sebagai sebuah dinamika yang memberi warna. Begitu juga pa’ Bambang yang anti administrasi kehadiran muridnya, mengalami penolakan. Guru yang tidak takut ditinggal muridnya jika tanpa absensi. Menjadi guru di sebuah sekolah arsitektur ternama tidak mudah. Mulai dari tuduhan tidak memiliki kapabilitas mengajar, tidak diberi kelas selama satu semester tanpa alasan yang jelas, hingga tidak dikeluarkannya ijin resmi oleh fakultas untuk melanjutkan studi strata tiga (S3) ditelannya tanpa banyak keluhan. Guru &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nyentrik&lt;/span&gt; ternyata tidak hanya adala dalam cerita &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wiro Sableng&lt;/span&gt; dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sinto Gendeng&lt;/span&gt; tapi ada dikehidupan nyata. Guru yang mengajarkan bahwa arsitektur itu bukan hanya sebatas menciptakan ruang (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;space&lt;/span&gt;) dan hanya untuk orang yang berpunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pernah membaca salah satu surat kabar nasional mungkin pernah membaca pula bahwa sang penulis artikel bernama Nirwono Joga. Akrab dengan panggilan Mas Yudi, beliau adalah seorang Arsitek Lansekap yang menganut ilmu padi - penuh dengan ilmu tetapi tetap rendah hati. Mungkin ketika pertama kali bertemu mas Yudi ini akan terlihat sebagai seorang yang sangat pendiam tapi jangan salah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;he’s one of silent observer&lt;/span&gt; yang jika berbicara sangat dalam tapi sangat rendah hati. Mas Yudi mungkin termasuk orang yang langka, orang yang selalu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk maju bukan dihalangi, seorang yang dengan tulus memberikan ilmu yang dimiliki dan sangat sederhana penampilannya. “Saya orang yang ‘terbuang’ di Trisakti!”, katanya kepada beberapa teman sewaktu kumpul bersama. Tapi agaknya menjadi ‘terbuang’ perlu dipertanyakan kembali, benar terbuang ataukah membuat minder orang disekitar dengan karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah forum di Surabaya arsitek Popo Danes pernah berkata, “Saya anggota MAPALA - MAhasiswa PAling LAma”. Mengingatkan saya kepada A. Kriswandhono seorang yang baru menyelsaikan strata satu (S1) arsitektur dalam waktu yang sangat lama dan akhirnya menyelsaikan strata dua (S2) di bidang arkeologi tahun ini. Sosoknya mungkin tidak begitu mencolok sama dengan orang yang berumur 50 tahun pada umumnya, badannya agak gemuk, rambutnya mulai memutih dan berlogat ‘banyumasan’. Jika di Indonesia selalu keluhkan soal tidak terintegrasinya satu bidang ilmu dengan bidang ilmu yang lain atau multidipslin ilmu, maka pa’ Kris seorang yang sangat peduli tentang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;integrated science&lt;/span&gt;. Pada sebuah diskusi melalui dunia maya beliau pernah mendiskusikan tentang pentingnya arsitektur dan arkeologi berjalan bersama dalam hal pelestarian serta jangan sampai hanya merupakan utopia. Diumurnya yang selalu disamakan hampir sama dengan Benda Cagar Budaya (BCB) beliau telah menjadi teman dan ‘guru’ yang nyentrik bukan hanya bagi bagi satu bidang ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29600709291262287-1544377405050336432?l=wastu-citra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wastu-citra.blogspot.com/feeds/1544377405050336432/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29600709291262287&amp;postID=1544377405050336432' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/1544377405050336432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/1544377405050336432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wastu-citra.blogspot.com/2008/12/other-heroes-pahlawan-liyan.html' title='Pahlawan Liyan'/><author><name>david a. sagita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06304000331306029355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SQveK4nRjCI/AAAAAAAAAAM/CoUP9-MvOt4/S220/me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29600709291262287.post-484136140333691935</id><published>2008-12-08T19:41:00.000+07:00</published><updated>2008-12-08T23:39:37.014+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Journey'/><title type='text'>Peneleh - Banon - Madilog - Semarang Fantasi Orkestra - Toko Oen</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;GADO-GADO. Hmm…rasanya jika mendengar kata-kata ini maka kita langsung teringat dengan penganan “salad” khas Indonesia yang teridiri dari sayur-sayuran seperti tauge, kacang panjang, kentang, kangkung, kentang ditambah irisan tahu kemudian dicampur dengan ‘ulekan’ kacang tanah. Tapi gado-gado di Jakarta berbeda dengan gado-gado di Surabaya, yang sama hanyalah kesemuanya dicampur dalam piring. Sama dengan judul di atas tulisan ini sebenarnya merupakan sebuah catatan gado-gado perjalanan di Jawa Timur dari yang serius hingga yang santai.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Awal perjalan di mulai dengan pertemuan dengan beberapa teman di Surabaya untuk membahas soal Makam Tua Belanda di Peneleh atau apa yang tersisa di sana. Peneleh adalah sebuah daerah yang menjadi incaran para pengembang dan pelaku binis dikarenakan oleh posisi strategisnya yang berada di pusat kota Surabaya. Sebenarnya selain Makam Tua Belanda, Peneleh merupakan tempat dimana Soekarno tinggal dan untuk pertama kalinya berkenalan dengan dunia politik dan pergerakan, di rumah H.O.S. Cokroaminoto yang sampai saat ini masih dapat kita lihat. Cerita (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;story&lt;/span&gt;) tentang Peneleh bukan hanya itu, sebelumnya pernah dibicarakan bahwa Peneleh adalah tempat dimana Sunan Ampel (Raden Rahmat) singgah dan sempat membangun masjid sebelum beliau menetap di daerah Ampel, Surabaya. Kampung Peneleh juga sangat unik dimana kita masih bisa merasakan rasa kekeluargaan yang sangat tinggi antara tetangga, memang jika bicara soal kampung, Peneleh juga sangat padat akan tetapi ditengah-tengah kepadatan tersebut terdapatlah ruang-ruang komunal (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;communal space&lt;/span&gt;) yang digunakan secara bersama. Entah sejak kapan ruang tersebut ada tapi jika ingin ditelaah lebih lanjut kita dapat bertanya apakah ruang tersebut ‘terbentuk’ atau ‘dibentuk’, yang pasti ruang tersebut memberikan warna di tengah kepadatan kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;60 Km ke arah Selatan Surabaya kita dapat menjumpai sentra pembuatan Banon alias Linggan atau kita mengenalnya sebagai di daerah Trowulan. Bahkan industri pembuatan banon di Trowulan ini sempat menuai perdebatan antara pelestarian dan penyelamatan bukti sejarah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;historical evidence&lt;/span&gt;) dengan ketersediaan lapangan kerja bagi masyarakat. Trowulan yang hingga saat ini masih diperkiraan sebagai Pusat Kota (Kota Raja) Majapahit menyimpan banyak misteri dan potensi. Henry Macline Pont arsitek keturunan Belanda adalah orang pertama yang melakukan penelitian soal Majapahit yang menghasilkan Skema Tata Kota Raja Majapahit. Pont kemudian mendirikan museum yang unik dengan menggunakan ‘umpak’ sebagai dasar bangunan yang berfungsi sebagai pondasi, hal ini menggambarkan kehati-hatian Pont dalam melakukan penggalian demi sebuah bangunan. Bagaimana dengan industri banon Trowulan, apakah tidak terlalu beresiko melakukan penggalian tanpa mempertimbangkan bahwa Trowulan sebenarnya adalah sebuah situs sejarah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;historical site)&lt;/span&gt;? Bukan hanya ancaman yang bersifat lokal, ancaman juga datang dari luar Trowulan dan bersifat nasional bahkan dari pemerintah sendiri. Beberapa waktu lalu terdengar pro dan kontra pembangunan Pusat Informasi Majapahit (P.I.M.) dan Taman Majapahit yang direncanakan oleh “orang dalam” Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Bukan di Indonesia jika Jakarta (baca: Pemerintah Pusat) memerintah kemudian tidak dilaksanakan. Sementara itu bagi yang peduli dan sadar bahwa Situs Majapahit perlu diselamatkan mati-matian menggalang kekuatan di antara para oportunis sang menteri; sejumlah diskusi dan seminar di tingkat lokal dan nasional diselenggarakan, sejumlah pakar arkeologi mengemukakan argumentasi tajam dan pedas, namun sang menteri tetaplah tutup telinga atau munkin ternyata sang menteri bukanlah orang yang cukup bijak dan pandai? Atau mungkin sang menteri ternyata hanyalah boneka politik yang tidak tau apa-apa soal kebudayaan Indonesia dan berusaha ‘berkarya’ di pengujung kekuasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelah melihat Trowulan agaknya sangat cocok jika kemudian berpindah ke tempat yang sedikit sejuk, lebih kurang 1,5 jam berkendara dari Mojokerto ke arah Tenggara - ke Kota Malang. Jika Jawa Barat punya Bandung, Sumatera Barat punya Bukit Tinggi, Jawa Timur punya Malang, sebuah kota kolonial yang dibangun sebagai tempat peristirahatan. Bicara kota kolonial pasti dapat dibayangkan bahwa tata kotanya pun direncanakan dengan baik sama seperti Menteng (Jakarta), Candi (Semarang), Darmo (Surabaya), Malang punya daerah Ijen. Dekat dengan Jl. Ijen terdapat Jl. Kawi; di Jl. Kawi ada sebuah tempat kuliner yakni Warung Pecel Kawi, murah-meriah dan enak. Bicara kuliner dari Malang mungkin tidak hanya Pecel Kawi, ada juga Cwe Mie mirip dengan Mie Pangsit gaya Jakarta, Bakwan (Bakso) Malang, hingga makanan yang sempat menjadi polemik akibat harga bahan baku kedelai yang sempat melonjak yakni TEMPE…boleh beli Tempe Malang atau Keripik Tempe-nya di daerah Sanan Malang. Tidak lengkap jika rasanya bagi saya jika berkunjung ke satu daerah tanpa mengunjungi toko buku lokal, karena berdasarkan pengalaman di toko buku lokal banyak buku yang sulit ditemui di toko-toko buku di Jakarta. Sebuah buku menarik pengamatan saya; MADILOG oleh Tan Malaka, sebuah buku ‘merah’ yang sempat dilarang cetak ataupun dibaca beberapa waktu yang lalu. Sebuah buku yang sempat menjadi bahan diskusi dengan rekan-rekan aktivis sewaktu kuliah…ternyata dicetak ulang. Membaca beberapa halaman MADILOG membuat saya sedikit sadar bahwa saya sendiri yang meng-klaim diri sebagai pencinta sejarah telah kehilangan jejak sejarah itu sendiri…MADILOG melahirkan MURBAISME yang kemudian menjadi dasar PARTAI MURBA…dimana seorang dimasa lalu adik dari kakek saya dari sisi ayah (yang harus saya panggil kakek juga) adalah salah seorang tokoh di dalamnya bahkan sempat akan diangkat sebagai salah satu menteri di jaman itu namun ditolaknya karena perbedaan pandangan politik...pandangan politik boleh berbeda namun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;memory&lt;/span&gt; akan keadaan waktu itulah yang saya sesali yang tidak sempat saya rekam (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;record&lt;/span&gt;) sebagai sebuah cerita (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;story&lt;/span&gt;) untuk sejarah (history). &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Memory as a story and story for history&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berburu buku yang paling menyenangkan adalah berburu Kaset atau CD musik, karena sama dengan buku terkadang yang lokal sulit ditemukan di Jakarta. Setelah beberapa lama mencari mata saya tertuju pada sebuah CD berwarna hijau dengan latar belakang Candi Borobudur berjudul Jawa in Orchestra oleh Semarang Fantasy Orchestra. Isinya mulai dari Walang Kekek hingga Stasiun balapan-nya Didi Kempot dikemas secara apik dalam paduan alat musik modern dan tradisional. Kalau seorang Jubing Kristanto memainkan lagu ibu Sud dengan judul Becak dengan arasemen menakjubkan dengan hanya sebuah gitar, James Chu dengan Javanova-nya maka Semarang Fantasy Orchestra ini mampu menghadirkan sebuah fantasy akan Indonesiana. Setelah lelah berkeliling agaknya cukup menyenangkan jika mampir ke Toko Oen, sebuah toko yang menjual beragam penganan tempo doeloe dengan atmosir tata ruang dalam yang dipertahankan sesuai dengan aslinya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ice Cream&lt;/span&gt; inilah yang menjadi favorit saya selain kopi hitam tanpa gula (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;black coffee without sugar&lt;/span&gt;) yang saya pesan, jadi teringat di Semarang juga ada Toko Oen, di Jakarta ada Ragusa dan di Surabaya ada Zangrandi. Agaknya makan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ice Cream&lt;/span&gt; merupakan penutup yang baik di pengujung hari yang melelahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29600709291262287-484136140333691935?l=wastu-citra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wastu-citra.blogspot.com/feeds/484136140333691935/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29600709291262287&amp;postID=484136140333691935' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/484136140333691935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/484136140333691935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wastu-citra.blogspot.com/2008/12/peneleh-banon-madilog-semarang-fantasi_8637.html' title='Peneleh - Banon - Madilog - Semarang Fantasi Orkestra - Toko Oen'/><author><name>david a. sagita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06304000331306029355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SQveK4nRjCI/AAAAAAAAAAM/CoUP9-MvOt4/S220/me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29600709291262287.post-7460630554982059088</id><published>2008-11-05T10:08:00.000+07:00</published><updated>2008-11-06T14:15:27.514+07:00</updated><title type='text'>"Hah? Ada berang-berang di Jakarta?"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;"Hah? Ada berang-berang di Jakarta?". Rasa heran dan tidak percaya pun muncul dengan segera ketika seorang kawan yang ornitolog (ahli burung) bercerita tentang temuannya di sekitar bantaran kali ciliwung di daerah condet. Bahkan dia menjelaskan bukan hanya berang-berang yang dapat kita jumpai dia juga pernah melihat "timon" (sejenis binatang) tokoh dalam film Lion King. Berang-berang tentunya saat ini tidak cukup mudah ditemui di bantaran sungai-sungai Jakarta, dikarenakan sungai-sungai di Jakarta (atau yang melewatinya) tidak lagi ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ady Kristanto dan Frank Momberg (editor) mencoba untuk memaparkannya dalam sebuah buku berjudul &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alam Jakarta: Panduan Keanekaragaman Hayati yang Tersisa di Jakarta&lt;/span&gt;. Yang cukup menarik dari judul tersebut ada sebuah frase: 'yang tersisa'. Jika frase ini dilihat lebih dalam, ada sebuah pesan penting agar menjaga 'harta' kita agar tidak hilang. Bukan mustahil jika (orang-orang) Jakarta tidak mau peduli dengan 'harta' yang tersisa, maka kita hanya dapat melihat berang-berang melalui rekaman-rekaman film dokumenter, buku ataupun foto-foto. Satu adegan pada film Babylon A. D., pernah menyampaikan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Y. B. Mangunwijaya atau biasa dikenal dengan Romo Mangun (arsitek) menawarkan sebuah pendekatan lain untuk menjaga 'yang tersisa' di daerah Kali Code, Yogyakarta. Konsep serta teori arsitektur &lt;span style="font-style: italic;"&gt;waterfront&lt;/span&gt; diterapkan dengan cerdik, bangunan-bangunan yang ada di bantaran Kali Code dirubah orientasinya, sungai bukan sebagai halaman belakang (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;back-yard&lt;/span&gt;) tapi merupakan halaman depan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;front-yard&lt;/span&gt;). Secara psikologi ini memberikan sebuah efek visual terhadap pandangan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;view&lt;/span&gt;) manusia yang tinggal. Ketika dihadapkan dengan sesuatu yang kotor maka dengan sendirinya manusia akan merespon untuk menjaganya tetap bersih. Sungai tidak dianggap sebagai sesuatu yang di 'belakang' (untuk dilupakan) tetapi sebagai yang ada di 'depan' (untuk dilihat dan dijaga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kebudayaan di Indonesia juga masih mewarisi kearifan lokal untuk menghormati sungai (air) sebagai sumber kehidupan utama. Suku Anak Dalam di Jambi masih memegang teguh prinsip mereka tidak boleh mengotori sungai dalam bentuk apapun walaupun hanya untuk buang air kecil (yang secara kasat mata sama-sama cair). Mungkin kita harus mulai berpikir bahwa air bukanlah merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;renewable natural resources&lt;/span&gt;), akan tetapi memiliki kesamaan dengan minyak bumi sumber daya alam yang dapat habis dan tidak dapat diperbaharui (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;non-renewable natural resources&lt;/span&gt;). Buku Alam Jakarta mungkin dapat mengingatkan kita semua bahwa alam di Jakarta adalah pusaka kita (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;our heritage&lt;/span&gt;) yang harus selalu kita jaga.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29600709291262287-7460630554982059088?l=wastu-citra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wastu-citra.blogspot.com/feeds/7460630554982059088/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29600709291262287&amp;postID=7460630554982059088' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/7460630554982059088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/7460630554982059088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wastu-citra.blogspot.com/2008/11/hah-ada-berang-berang-di-jakarta.html' title='&quot;Hah? Ada berang-berang di Jakarta?&quot;'/><author><name>david a. sagita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06304000331306029355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SQveK4nRjCI/AAAAAAAAAAM/CoUP9-MvOt4/S220/me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29600709291262287.post-4858976626915187123</id><published>2008-11-01T14:32:00.000+07:00</published><updated>2008-11-05T12:13:00.701+07:00</updated><title type='text'>Halo Dunia! - Hello World!</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;METAMORFOSA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; - kata ini berakar dari kata metamorfosis, yang menurut Kamus Tesaurus Bahasa Indonesia kata metamorfosis memiliki beberapa padanan kata antara lain; alih bentuk, alterasi, konversi, perubahan, transmutasi, penjelmaan, salin jisim (sunda). Metamorfosa sendiri biasanya mengingatkan kita pada sebuah proses alamiah seekor ulat menjadi bentuk kupu-kupu, sebuah penjemaan (jika boleh dikatakan) dari jelek menjadi sesuatu yang indah. Sebuah proses penjelmaan - perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metamorfosa terjadi hampir apapun dan siapapun. Metamorfosa pada manusia merupakan yang paling kompleks dan rumit, secara kasat mata metamorfosa manusia terbagi dua; pada anak laki-laki kondisi fisiknya berubah dengan munculnya jakun (&lt;i&gt;Adam’s apple&lt;/i&gt;), suara yang menjadi besar dan lainnya, sehingga sebagai pria; pada anak perempuan kondisi fisiknya berubah dengan munculnya buah dada (payudara), suaranya seperti anak kecil, terjadinya proses peluruhan sel-sel telur setiap bulan (mensturasi) dan lainnya, sehingga disebut sebagai wanita. Metamorfosa ini merupakan sebuah proses yang bersifat badaniah. Sedangkan metamorfosa batiniah manusia tergantung pada banyak hal dan amat rumit. Dalam kegiatannya sehari-hari pun manusia bermetamorfosa misalnya ketika akan berangkat beraktivitas, berkarir atau menjalin hubungan antar manusia (baik sebagai makhluk sosial ataupun hubungan percintaan) semua selalu bermetamorfosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta juga mengalami proses yang sama yakni bermetamorfosa dari sebuah tempat yang digunakan sebagai pelabuhan utama Kerajaan Pajajaran dan pos perdagangan (&lt;i&gt;trading post&lt;/i&gt;) di masa lalu menjadi Jakarta yang kita kenal sekarang ini. Bukan hanya bentuk (&lt;i&gt;form&lt;/i&gt;) yang beralih, nama dari Jakarta juga bermetamorfosa, Jayakarta – Batavia – Jakarta. Jakarta merupakan sebuah ruang (&lt;i&gt;space&lt;/i&gt;) yang menjadi habitat dari banyak makhluk manusia, flora dan fauna. Ruang dalam Jakarta juga ikut bermetamorfosa. Keragaman juga dapat dilihat dimana-mana di Jakarta. Gubahan-gubahan massa (arsitektur) pembentuk ‘citra’-nya juga bermetamorfosa dari bentuk yang paling sederhana dengan fungsi yang sederhana hingga bentuk yang paling kompleks dengan fungsi yang kompleks pula. Terminologi untuk Jakarta juga bermetamorfosa kampung besar, metropolitan hingga saat ini megapolitan. Metamorfosa selalu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah hasil karya cipta manusia arsitektur bermetamorfosa. Dari gaya (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;style&lt;/span&gt;) hingga ke teknologi yang digunakan - dari bentuk yang paling sederhana hingga yang kompleks sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;craft evolution&lt;/span&gt;. Sang arsitek pun turut bermetamorfosa dalam pencariannya, contoh dalam berkarya, bandingkan karya dimasa-masa awal pastilah karya tersebut berbeda dengan masa kini, hal ini disebabkan oleh banyak hal salah satunya adalah metamorfosa batiniah sang arsitek. Metamorfosa bukanlah bentuk dari inkosistensi manusia tapi merupakan sebuah proses yang dapat dimaknai sebagai sebuah proses menuju yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari ber-metamorfosa...&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29600709291262287-4858976626915187123?l=wastu-citra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wastu-citra.blogspot.com/feeds/4858976626915187123/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29600709291262287&amp;postID=4858976626915187123' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/4858976626915187123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29600709291262287/posts/default/4858976626915187123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wastu-citra.blogspot.com/2008/11/halo-dunia-hello-world.html' title='Halo Dunia! - Hello World!'/><author><name>david a. sagita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06304000331306029355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_MGm7uewd3eQ/SQveK4nRjCI/AAAAAAAAAAM/CoUP9-MvOt4/S220/me.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
